Cara Membuat Tepung Bekatul

Membuat Tepung Bekatul

Cara Membuat Tepung Bekatul

Pada artikel ini, akan saya bagikan Cara Membuat Tepung Bekatul yang sangat mudah dan simple untuk Anda coba. Cocok untuk Anda peternak kecil–menengah.

Sebelum mengulik cara buat bekatul, Anda mungkin juga akan tertarik dengan beberapa daftar macam macam olahan dari daging sapi yang bisa dijadikan referensi memasak di rumah.

Cara Membuat Tepung Bekatul, Simple

Cara Membuat Tepung Bekatul
  1. Pastikan sekam padi untuk membuat dedak benar-benar kering atau kadar airnya hampir 2%. Karena jika sekam padi tidak dalam posisi kering, sulit untuk mengeluarkannya dari mesin tepung sekam.
  2. Saat cangkangnya kering, masukkan ke dalam mesin untuk digiling.
  3. Ukuran dedak atau dedak ditentukan oleh mesin filter dengan ukuran filter tertentu.
  4. Berikan corong mesin wadah dengan karung agar dedak tidak terbang ke mana-mana.
  5. Dedak padi siap diolah menjadi pakan fermentasi kering untuk ayam pedaging atau lainnya.

Penggunaan mesin giling sekam menjadi bekatul untuk pakan ternak akan sangat membantu dalam proses pembuatan bekatul.

Dedak padi atau bekatul telah lama digunakan sebagai kombinasi pakan ternak, seperti tepung jagung dan kedelai.

Tidak hanya harganya yang murah, Rp. 1.200 – Rp. 1.500/kg, kandungan protein sekam padi cukup tinggi, hingga 10-12%.

“Penggunaan dedak padi mencapai 20-30% dari total pakan,” ucap Sobri. Sayangnya, dedak padi mudah tengik karena memiliki ikatan asam lemak tak jenuh.

Kekurangan lainnya, dedak padi mengandung asam fitat. Asam ini merupakan zat antinutrisi yang dapat mengikat mineral dan protein seperti Ca, P, Fe, Zn, dan Mg. ‘Asam fitat sulit larut dalam air dan tahan terhadap panas.

Karena itu, dedak padi sulit diolah,” kata Sobri yang juga guru besar peternakan di kampus Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur.

Kandungan Dedak Padi 

Enzim fitase

Asam fitat dalam dedak padi dapat menghambat perkembangan. Pengikatan fosfor, misalnya, mengganggu perkembangan tulang dan penambahan berat badan pada ayam.

Menurut Ir Arnold P Sinurat, MS. PhD, peneliti senior di Balai Penelitian Ternak Ciawi (Balitnak), Bogor, ayam membutuhkan fosfor antara 0,4 hingga 0,5% dalam pakannya.

Jumlah fosfor berkurang karena terikat dengan asam fitat. “Hanya ada 0,25% fosfor,” kata Arnold. Oleh karena itu, diperlukan enzim fitase untuk meningkatkan kandungan fosfor.

Enzim fitase memecah asam fitat menjadi yang lebih sederhana. Pada ruminansia, enzim fitase diproduksi oleh rumen.

Berbeda dengan keluarga monogastrik, juga dikenal sebagai perut tunggal, seperti keluarga unggas, enzim fitase sedikit diproduksi.

Enzim fitase dapat diproduksi dengan cara fermentasi. Sujono telah memfermentasi dedak sejak tahun 2001. Sujono menggunakan tempe Rhizophus oligosporus yang tersedia sekitar 2%.

Terbukti dapat merusak asam fitat sehingga asam lemaknya tidak jenuh. Pada saat itu, karbohidrat, lemak, dan protein dihidrolisis menjadi senyawa sederhana.

Dedak fermentasi juga mengandung asam dan senyawa lemak tak jenuh tunggal, antioksidan elemen 2, dan enzim superoksida dismutase.

Selain itu, mereka meningkatkan vitamin B dan asam amino. Misalnya asam amino, meningkat dari 7,36% menjadi 12,37% dan protein dari 12,09% menjadi 18,82%.

Pada akhirnya proses metabolisme akan lebih lancar dan perkembangannya akan maksimal.

Kolesterol rendah

Menurut penilaian Sujono, fermentasi dedak bisa ditingkatkan hingga 40%. Hal ini memberikan keuntungan bagi petani karena menghemat biaya pakan.

Biaya fermentasi dedak padi Rp. 150 – Rp. 200/kg. “Ini masih cenderung lebih hemat Rp200/kg dari total ransum,” kata Sobri. Nilai ini dihitung dari kenaikan harga pakan: jagung Rs 2.500 – Rs 3.000 / kg dan kedelai Rs 5.600 / kg.

Dedak fermentasi memiliki manfaat lain, yaitu menurunkan kolesterol pada daging dari 54,44 mg menjadi 29,59 mg.

Demikian pula kolesterol telur menurun menjadi 196,49 mg/100 g bahan kering dari 252,07 mg/100 g bahan kering. Artinya daging ayam dan telur yang dikonsumsi sehat.

Selain dedak, bahan lain seperti fase padat padat (SHP) limbah cair kelapa sawit, singkong, daun singkong, daun singkong, kelapa, ampas sagu dan biji kopi dapat difermentasi untuk pakan kombinasi.

Hal ini dilakukan oleh Balai Penelitian Ternak Ciawi (Balitnak), Bogor. Pada tahun 2007, pusat tersebut memperkenalkan fermentasi SHP menjadi alternatif 25% jagung.

Mikroba yang digunakan sangat adaptif, mudah berkembang biak, dan tidak menimbulkan toksin. 

Proses fermentasi menunjukkan berlangsungnya penurunan kadar serat kasar, penambahan protein, daya metabolisme, serta asam amino.

Dengan fermentasi beberapa bahan kombinasi pakan, seperti bekatul dan SHP, peternak bisa meraup banyak keuntungan. 

Demikian ulasan mengenai Cara Membuat Tepung Bekatul yang dapat Anda contoh dan coba. Pasti hasilnya akan memuaskan!

Agar peternakan Anda semakin bagus, gunakan berbagai mesin canggih dari Rumah Mesin. Semoga bermanfaat. 

Leave a Reply